Nasional

Terkait Tumpahan Minyak di Balikpapan, GMP Tuding Pertamina Lalai

Jakarta – Tumpahan minyak dari pipa Pertamina di pesisir Teluk Balikpapan masih menjadi perhatian publik tanah air. Pencemaran lingkungan laut tersebut dipantau oleh Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Melalui citra satelit radar Sentinel 1 April 2018, LAPAN menunjukkan tumpahan minyak warna gelap di permukaan perairan dekat kota Balikpapan yang menyebar ke Selat Makassar.

Menyikapi hal tersebut, Dewan Pimpinan Pusat Garda Muda Palapa (GMP) mengecam keras fenomena yang berdampak pada pencemaran lingkungan laut tersebut. Koordinator Garda Muda Palapa Chairullah Tollaahu pun menilai PT. Pertamina telah lalai dalam melakukan pengawasan, sehingga ada pipa penyalur minyak mentah bawah laut patah dan menimbulkan tumpahan minyak di perairan Teluk Balikpapan.

“Akibat kelalain ini, kami mendesak agar PT Pertamina bisa mengevaluasi dan mengganti jajaran direksi beserta Sekper PT Pertamina,” tegas Chairullah saat jumpa pers, di Caffe Waris Taman Amir Hamzah Matraman, Jumat kemarin.

Lebih lanjut, Chairullah mengatakan dampak bocornya pipa perusahaan tersebut di Balikpapan menyebabkan rusaknya ekosistem laut adalah karena faktor pipa yang sudah berumur tua lebih dari 20 tahun tersebut patah. Pasalnya, menurut temuan Walhi terdapat empat kawasan terumbu karang di Balikpapan rusak, yaitu Pulau Balang, Janebora, Tanjung Batu, dan Tanjung Jumpai. Dan empat mamalia yang dilindungi terpaksa menjauh dari habitat mereka yang tercemar tumpahan minyak, yaitu pesut, lumba-lumba hidung botol, lumba-lumba tanpa sirip belakang dan dugong.

“Akibat kerusakan ekosistem ini, Pertamina harus bertanggung jawab. Tidak cuma rugikan habibat tapi dampak ke masyarakat sekitar khususnya para nelayan,” sebutnya.

“Harusnya ini hal ini tidak perlu terjadi jika dilakukan mekanisme yang benar yakni pemeriksaan rutin secara berkala,” bebernya.

Chairul mengancam pihaknya dalam waktu dekat ini akan menyambangi Kantor Pusat PT Pertamina pada 11 April 2018 untuk mendesak Perusahaan plat merah itu bertanggung jawab penuh terkait insiden yang dituding lalai.

“Kami mendesak Pertamina bertanggung jawab penuh terhadap kerusakan ekosistem laut dan lingkungan sekitar akibat kebocoran Pipa Pertamina,” pungkasnya.

 

Most Popular

Babenya adalah baca berita nya dari beragam situs berita populer; akses cepat, ringan dan hemat kuota internet.

Portal Terpercaya.

Copyright © 2016 BaBenya.com.

To Top